7 February 2017

PERANAKAN



             Memiliki suami peranakan adalah salah satu impian saya, entah bagaimana saya bisa menyukai pria beridentik bermata sipit dan berkulit putih ini. Tapi, saya mengira kejadian ini bermula saat saya masih anak-anak, jadi saat itu saya pernah menyukai pria Peranakan Tionghoa yang tentunya bermata sipit dan Alhamdulillah masih berkulit putih (Ada pula Peranakan Tionghoa yang memiliki kulit coklat, contohnya Peranakan Tionghoa di daerah Tengerang atau yang biasa disebut Cina Benteng). Mungkin, itu awal dari kesukaan saya terhadap pria Peranakan Tionghoa.
            Saya juga menyukai sesuatu yang menyangkut Peranakan Tionghoa. Seperti saya menyukai kisah tokoh Peranakan Tionghoa dari Kota Medan “Queeny Chang” yang berusaha mematuhi adat istiadat yang kental dan menjadi pionir, sama seperti ayahnya “Tjong A Fie”. Suatu hari nanti, saya ingin berkunjung ke Tjong A Fie Mansion untuk melihat kemegahan rumah tempo dulu yang diceritakan dalam buku “Kisah Hidup Queeny Chang Anak Tjong A Fie Orang Terkaya di Medan”.


            Banyak stereotype yang ditujukan kepada Etnis Tionghoa, salah satunya adalah PELIT. Namun, tidak semua orang Etnis Tionghoa memiliki sifat pelit, orang Jawa pun juga ada kok yang pelit :D. Mungkin mereka bukan pelit tapi lebih ke ngirit atau hemat, pelit sama hemat beda loh artinya :). Selain itu, mereka juga identik dengan tinggal di ruko atau rumah toko. Memang sebagian Etnis Tionghoa  tinggal di ruko. Contohnya, Orang Tionghoa depan rumah saya, mereka satu keluarga tinggal di ruko berlantai tiga, lantai satu dijadikan untuk toko elektronik, lantai dua dijadikan tempat tinggal, dan lantai tiga mereka jadikan lapangan badminton. Sayangnya mereka jarang sosialisasi dengan warga sekitar mungkin, karena sibuk dengan para pelanggan mereka. Dulu saat saya masih sekolah, sering papasan dengan salah satu anak yang tinggal di ruko tersebut tapi saya juga tidak pernah sapaan, yang saya heran setiap papasan dia lebih sering menggunakan sandal crocs untuk ke sekolah (ini gak penting !). Sekarang jarang sekali papasan dengan dia, karena jadwal ke sekolah kita berbeda jam. Padahal saya penasaran, apakah saat kuliah dia masih menggunakan sandal crocs :D.
            Kemarin, saya sempat mampir ke Pekan Budaya Tionghoa di Kampung Ketandan. Banyak hiburan yang ditampilkan seperti, pertunjukan wayang potehi, pembacaan cerita bahasa mandarin, pertunjukan barongsai dan liong, dan masih banyak lagi, saya tidak ingat nama acaranya. Di Pekan Budaya Tionghoa ini juga terdapat Pameran Rumah Budaya Ketandan, sayang saya tidak berkesempatan mengetahui secara langsung sejarah berdirinya rumah Tionghoa itu, padahal saya ingin melihat bangunan dan sejarah rumah tersebut. Terpenting bagi saya di Pekan Budaya Tionghoa adalah banyak koko-koko ganteng bergentayangan di mana-mana hahaha…
https://web.facebook.com/jogjachineseartandculturecenter/photos/a.290679180991061.71433.287189448006701/1283765925015710/?type=3&theater
 Rumah Budaya Ketandan
            Beberapa menit yang lalu setelah membaca pamflet mengenai cici koko Jogja, jadi memiliki keinginan untuk mendaftar menjadi cici Jogja. Namun apa boleh buat pendaftaran ditutup tanggal 31 Januari dan ini nih yang membuat saya nyesek, tinggi badan tidak memenuhi kriteria. Sedih…, mungkin beberapa bulan sebelum perekrutan cici koko tahun depan, saya harus ke klinik yang bisa meninggikan tinggi badan :D Oh iya, untuk menjadi cici koko Jogja tidak harus kalian yang beretnis Tionghoa lho, Etnis Non Tionghoa seperti saya pun juga bisa berpeluang untuk menjadi cici koko Jogja :).



4 comments:

  1. Aku ada film korea, aktornya matanya sipit lhotih

    ReplyDelete
  2. Sini minta, iya lah yen matanya sipit kan masih di wilayah asia timur. Walaupun matanya sama-sama sipit tapi, aku lebih suka pria Tionghoa :D:D:D

    ReplyDelete
  3. Tih aku ada recomend yang mata sipit lo.

    ReplyDelete

Thanks for your comment :)