19 March 2016

Mata Kuliah Keagamaan

         Pada saat mengisi form SNMPTN tahun 2014, saya tidak mempunyai niatan sama sekali untuk memilih Universitas Sunan Kalijaga. Bukan karena image UIN yang suka demo, tetapi saya takut tidak bisa mengikuti mata kuliah keagamaan di UIN. Saya dahulu sebagai orang awam menganggap UIN sebagai universitas yang memiliki pemahaman keagamaan sangat tinggi. Kebanyakan mahasiswanya dari pondok, menggunakan pakaian menutup aurat, tidak boleh mengunakan celana, harus sudah bisa membaca Al-Quran, harus sudah bisa membaca Arab gundul, dll. Mungkin karena terdapat embel-embel “Islam”, sehingga saya berpikir seperti itu :D
        Namun kenyataannya tidak semenakutkan yang saya bayangkan :D Hal ini dibuktikan setelah saya menjalani perkuliahan selama tiga semester. Dari awal memulai perkuliahan sudah banyak mahasiswi yang menggunakan celana dan berpakaian tidak terlalu menutup aurat.
         Di semester satu materi yang berbau keagamaan ialah mata kuliah Al-Quran & Hadist, Pengantar Studi Islam, Sejarah Kebudayaan Islam dan Budaya Lokal , dan mata kuliah Tauhid. Di semester satu tidak begitu berat materi keagamaan yang diajarkan, kebanyakan dari mata kuliah tersebut hanya menjelaskan tentang sejarah Islam. Di semester ke dua terdapat mata kuliah Akhlaq Tasawwuf, Bahasa Arab, Hadist Dakwah, Sejarah Dakwah, Tafsir Ayat-Ayat Dakwah, dan Ushul Figh.
          Di semester dua materi kegamaan yang diajarkan sudah mulai menguras otak dan tenaga. Kita dituntut untuk bisa membaca Arab Gundul untuk mata kuliah Bahasa Arab dan Hadist Dakwah. Hampir setiap pertemuan seluruh mahasiswa temasuk saya ditunjuk untuk membacakan sebuah Hadist yang sudah bisa ditebak menggunakan Arab Gundul. Tips untuk kalian (adek-adek angkatan) yang belum bisa membaca Arab Gundul, satu hari sebelum mata kuliah dimulai lebih baik kalian browsing di gogle untuk mencari harokat hadist yang akan dipelajari di kelas besok. Selain itu, untuk mata kuliah Tafsir Ayat-Ayat Dakwah kita harus sudah menafsirkan sendiri ayat-ayat Al-Quran yang berhubungan dengan dakwah Islam di rumah, sehingga pada saat di kelas diharapkan mahasiswa sudah memahami materi yang akan dibahas dan sebelum mata kuliah ini dimulai akan ada kegiatan mengaji bersama.
          Semester tiga mata kuliah yang diajarkan ialah Figh Sosial, Ilmu Dakwah, Kesejahteraan Sosial dalam Al-Quran, dan Kesejahteraan Sosial dalam Sunnah. Tidak berbeda jauh dari semester sebelumnya, semester tiga pun juga menguras otak dan tenaga. Dosen yang mengampu mata kuliah tersebut sama dengan yang mengampu di semester dua, jadi metode yang diterapkan untuk pengajaran pun otomatis sama. Namun, saya sangat bersyukur karena bisa mengikuti mata kuliah berbau keagaman dengan baik dan mendapatkan nilai yang memuaskan, kecuali mata kuliah Bahasa Arab :( 
        Di semester tiga diwajibkan untuk mengikuti test baca Al Quran. Pertama kali mengetahui ada test semacam itu, saya takut apabila tidak lulus. Maklum saya dibesarkan dikeluarga yang tidak begitu religius. Selain itu, saya belum begitu lancar dalam membaca Al-Quran, saya masih mikir untuk membaca harokat per harokat. Satu minggu sebelum hari H, saya mulai belajar membaca Al-Quran lagi, dan satu hari sebelum hari H saya berlatih membaca hingga 4 JUZ dalam semalam. Perjuangan saya pun tidak sia-sia, akhirnya saya dinyatakan lulus membaca Al-Quran walaupun hanya mendapat nilai B. Walaupun begitu, saya sudah sangat bersyukur karena banyak teman-teman yang tidak lulus test ini. Untuk semester empat sudah tidak ada lagi mata kuliah yang berbau keagamaan :) :) :)

 Sertifikat baca & tulis Al-Quran menjadi salah satu syarat untuk  Munaqosah (semacam sidang skripsi).





~Work hard when you do not have what you want~


1 comment:

  1. blogwalking...

    keren banget tulisannya hehe..

    jangan lupa kunjung balik blog baruku..

    ReplyDelete

Thanks for your comment :)