13 April 2016

Langit Langit Langit


        Sebelum review kumpulan cerpen dan skenario yang dijadikan satu buku berjudul “Langit Langit Langit”. Saya ingin berterima kasih kepada teman saya “Wahyu Sekar Sari” yang telah memberi buku ini kepada saya.

“Makasih Sekaaaar udah ngasih buku Langit Langit Langit secara gratis :D, maaf baru sempet baca buku mu. Makasih juga udah dikasih bonus cerpen “Lovina”. Aaaaak pokoknya makasih yaah *kisses.”

Di dalam Antologi cerpen dan skenario terdapat tujuh judul cerpen dan sembilan judul skenario. Ke tujuh kumpulan cerpen tersebut berjudul Lingkar Setan, Kamatian (Dengan K Besar), Kartu Pos Berprangko Agonia, Pemuda Dibalik Syair Senja, Sumiar Mati, Pulang, dan Mingi. Sedangkan, kumpulan skenario berjudul Sello Fies, Nina Bobo, Solikin Di Komik Aja, Tempe Enak Dibacem Dan Perlu, Naskah Film Pendek “Awas Barang Bawaan Anda”, Kuda Laut, dan Apakah Kamu Bersedia.
Namun, saya hanya akan membahas satu cerpen yang ditulis oleh teman saya yang berjudul “Kartu Pos Berprangko Agonia”.


Kartu Pos Berprangko Agonia berlatar sebuah desa di kaki gunung yang dikelilingi oleh perkebunan tembakau, sejauh mata memandang akan disuguhi oleh hijaunya hamparan kebun tembakau dan rumah-rumah penduduk yang berjajar rapi.
“Aku” adalah sesosok pria yang memiliki poni lempar dan berpenampilan rapi mengenakan seragam dinas dengan sepatu yang disemir hitam mengkilap. Pria tersebut mengunjungi desa di kaki gunung dengan membawa misi untuk menyelamatkan gadis kecil bernama Ratih agar dapat bersekolah seperti anak kebanyakan.
Perjuangannya membawa Ratih ke sekolah sangat-lah tidak mudah, tak kala ia harus berhadapan dengan ayahnya yang bernama Subanda. Seseorang yang dianggap tak waras oleh warga sekitar.
Subanda adalah seseorang yang dulu memiliki harta yang banyak sekali dari orang tuanya. Dia satu-satunya anak yang dimiliki keluarga tersebut. Ayahnya adalah seorang sejarawan yang senang sekali menceritakan tentang masa-masa mudanya mengenai orde baru, pembantaian PKI, pertentangan Masyumi, pergolakan G30S/PKI, perjanjian Linggarjati, dll.   Pada akhirnya dia menikahi seorang perempuan seusianya yang berperawakan molek dengan wajah ayu yang senantiasa indah dipandang oleh siapa saja. Wanita itu bernama Ningsih. Ningsih Purwita Ratih, nama yang sangat melekat dikepala “Aku”.
Entah karena kejadian apa, tiba-tiba kekayaan yang melimpah ruah itu lenyap. Mereka jatuh  miskin dan Ningsih mengembara pada suatu negeri.
Subanda mulai tak waras dan linglung ketika ia mengetahui wanita yang dicintainya mati dan jasadnya ditemukan di sebuah kamar hotel. Sejak saat itu, Subanda mulai bicara ngalor ngidul mengenai peperangan dan kejadian yang memiliki setting jaman dulu.
Subanda pun bercerita tentang kartu pos yang diberikan kepada anaknya Ratih bahwa, kelak Ratih akan diberi amanah Subanda untuk membawa pulang ibunya. Di dalam kartu pos, Ningsih berpose tidur-tiduran dengan banyak bercak merah yang Subanda klaim itu adalah gincu.
Tokoh “Aku” tergolek lemas, kekokohan yang ia bangun dengan susah payah runtuh berkeping-keping dengan sekejap tak kala ia melihat foto di dalam koran yang Subanda sebut-sebut itu adalah kartu pos. Sesosok perempuan terbujur kaku dengan simpahan darah di dalam foto itu adalah Ningsih, wanita yang tidak jadi ia persunting karena seorang laki-laki, dan ternyata laki-laki itu adalah Subanda. ~