27 November 2016

GENERASI TANGGAP DAN PEDULI KEJAHATAN SEKSUAL


Saya berkesempatan untuk mengikuti seminar nasional “Generasi Tanggap dan Peduli Kejahatan Nasional” yang diadakan oleh Prodi Psikologi UIN Sunan Kalijaga. Tema seminar ini sangat menarik dikarenakan Indonesia sedang mengalami kegentingan akan kejahatan seksual yang mana anak dan perempuan-lah yang rentan menjadi korban.
Selain tema yang menarik untuk dibahas, pembicaranya pun juga menarik dikarenakan sangat berpengalaman dalam bidang ini yaitu Roslina Verauli, M.Psi, Psikolog dan Analisa Widyaningrum, M.Psi., Psi. Mbak Vera ini merupakan psikolog anak dan seorang public figure, yang biasanya nonton acara Curahan Hati Perempuan di Trans TV pasti tau sosok Mbak Vera ini :D. Psikolog cantik bernama Mbak Ana bekerja sebagai psikolog di RS JIH, Al-Azar dan sebagai direktur Analisa Personality Develompment Center. Sebenarnya yang menjadi keynote speaker utama adalah Guru Besar dan Ahli Psikologi Sosial UI Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, dikarenakan beliau meninggal sehingga digantikan oleh Mbak Vera sebagai keynote speaker utamanya.
Oke, saya akan bahas pemaparan yang disampaikan oleh Mbak Ana terlebih dahulu. Di seminar kemarin Mbak Ana membahas tentang “Preventing Child Sexual Abuse”. 
Kekerasan seksual terhadap anak semakin meningkat. Data KPAI tahun 2011-2013 terdapat 7.065 kasus kekerasan anak. Dari jumlah tersebut, 30,1 %-nya adalah kekerasan seksual.
Apa yang akan terjadi pada korban ? pengalaman sexual abuse dapat memberikan  trauma berkepanjangan pada diri korban selain itu korban sexual abuse akan merasa sulit percaya pada orang lain, merasa bahwa dunia bukanlah tempat yang aman, tidak percaya diri, rendah diri, dan feeling guilty. Ia juga merasa malu, tidak berdaya dan menyalahkan diri sendiri. Korban sexual abuse juga rentan mengalami PTSD, kecemasan, dan depresi.
Penyebab maraknya kasus sexual abuse :
1.      Sistem hukum terbatas
2.      Pendidikan sex rendah
3.      Pengetahuan masyarakat rendah
4.      Perkembangan teknologi
5.      Pendidikan moral mulai pudar
6.      Nutrisi fisik
7.      Nutrisi psikologis.
Karakter pelaku sexual abuse :
1.      Memiliki kemampuan komunikasi interpersonal yang baik
2.      Memiliki kepribadian temperamental
3.      Memiliki masa lalu yang traumatis
4.      Memiliki harapan yang tidak realitas
5.      Kecenderungan suka mengisolasi diri
6.      Memiliki dorongan untuk mengendalikan orang lain
7.      Kemungkinan memiliki gangguan kepribadian.
Kasus sexual abuse yang pernah menggemparkan Indonesia yakni Robot Gedek, Babe, Emon, dan kasus Yuyun.

Di dalam seminar tersebut Mbak Ana juga menjelaskan tentang mitos dan fakta mengenai sexual abuse.

MITOS
FAKTA
Kita bisa menentukan seseorang adalah rapist atau bukan dari penampilan atau perilakunya.
Tidak ada predator yang pasti mengenai karakteristik rapist. Karena banyak juga rapist yang terlihat normal, ramah, karismatik, dan tidak membahayakan.
Ketika korban tidak melakukan perlawanan, berarti ia tidak keberatan dengan sexual abuse yang diterimanya.
Saat mengalami sexual abuse, sangat wajar bagi seseorang untuk diam. Rasa shock membuat korban sulit untuk bergerak, berbicara, bahkan berpikir.
Perempuan menjadi korban sexual abuse karena cara mereka berpakaian dan berdanadan.
Penelitian menunjukkan bahwa para rapist memilih korban berdasarkan tingkat “vulnerability” mereka, bukan berdasarkan penampilan mereka.

Bagaimana cara pencegahan  kekerasan seksual ? pencegahan kekerasan seksual dapat dilakukan dari lingkungan keluarga dengan upaya preventif yaitu menerapkan VICR:
1.     Vision (Orang tua harus memiliki visi mengenai konsep pengasuhan atau pola didik anak).
2.    Ideology (Orangtua mengajarkan kepada anak ideology-ideologi apa saja yang perlu dimiliki oleh anak).
3.    Consequences (Ajarkan pada anak bahwa terdapat konsekuensi dari setiap hal yang ia lakukan).
4.   Responsibility (Anak dilatih untuk diberi tanggung jawab dan dibimbing untuk menjalankan tanggung jawabnya tersebut).
Upaya pencegahan yang harus dilakukan pemerintah yakni merevisi UU Kejahatan Sexual,  sanksi hukum ditingkatkan,  menciptakan database korban atau pelaku (menggunakan finger print), membuat video dokumenter tentang bahaya kejahatan seksual kepada anak, edukasi kepada masyarakat dan rehabilitasi untuk korban dan pelaku.
Masyarakat memiliki peran penting untuk melakukan pencegahan ini. Masyarakat dapat berpartisipasi dengan cara mengembangkan budaya ingat dan waspada dan memahami bahwa pendidikan seks bukan berarti mengajarkan seks.
Peran media juga sangat besar untuk pencegahan kejahatan seksual yakni dengan cara lebih bertanggung jawab atas tayangan yang rentan propaganda kekerasan atau pornografi dan meningkatkan tayangan edukasi untuk menyebarkan info kepada msyarakat.

Peran mahasiswa psikologi sendiri yaitu sebagai education dan support group. Support group bertujuan agar sesama korban saling memberikan penguatan.


 Mbak Ana saat memaparkan materinya.

Mbak Vera berinteraksi dengan peserta.


Setelah Mbak Ana memaparkan materinya, sekarang giliran Mbak Vera yang akan menjelaskan materinya tentang “Penanganan Secara Menyeluruh Korban Kejahatan Sexual Pada Anak”.
Mbak Vera mengatakan bahwa orangtua yang berisiko membuat anaknya trauma kemungkinan dulunya pernah menjadi korban  kejahatan seksual, respon mereka ketika mengetahui anaknya menjadi korban kejahatan seksual akan tidak percaya dan menyalahkan anaknya.
Respon traumatic sexualization pada anak, remaja, dan dewasa akan berbeda-beda.
1.      Anak
Sexualize Interpersonal Relationships (anak  akan menyentuh atau memegang dan mencium seseorang bahkan yang belum ia kenal).
2.      Remaja
Re-emerging “Sexualization Behavior”  (Remaja lebih rentan untuk terjun ke dunia prostitusi, agresivitas sexual, dan perilaku sexual yang tidak tepat).
3.      Dewasa
Hambatan dalam relasi sexual, perasaan cemas, merasa bersalah, self esteem rendah terkait sexualitas. Hingga berisiko menjadi korban kekerasan dan trauma kebih lanjut.
4.      Survivor
Sukar membedakan situasi atau orang atau respon pada aksi-aksi sexual yang tidak diinginkan.

FAKTA : 35% anak pra sekolah korban kekerasan sexual menampilkan perilaku yang  menyimpang.
            Cara mendeteksi dini korban kejahatan sexual :
1.      Pra Sekolah
-        Menarik diri
-        Agresif
-        Takut
-        Mimpi buruk
-        Perilaku berkaitan dengan sexual (sering memainkan alat kelamin)
2.      Usia Sekolah
-        Mencakup gejala seperti di usia pra sekolah
-        Hiperaktivitas
-        Masalah dari sekolah
3.      Remaja
-        Depresi
-        Keinginan bunuh diri
-        Marah
-        Kabur dari rumah
Mbak Vera menyatakan bahwa untuk penanganan masalah ini SUKAR !!! Tujuan penanganannya sendiri untuk mengembalikan rasa percaya diri, perasaan aman, tanpa menyalahkan diri sendiri pada anak.
Dalam penangannya harus memperhatikan usia korban. Bentuk penanganan dapat berupa pendampingan psikoedukasi dan support, dan pendampingan psikoterapi.
1.      Psikoedukasi dan support
-        Membantu anak memahami apa yang membuat kejadian tersebut terjadi dan membantu mereka merasa aman kembali.
-        Memahami kejahatan sexsual agar belief yang keliru dapat dibenahi.
-        Dapat dilakukan dengan media film, foto, gambar, dll.
2.      Psikoterapi
-    Trauma Focused Cognitive Behavior Theraphy (TF-CBT) dengan komponen utama berupa practice psikoedukasi, relaksasi dan affect.


I am so small I can barely be seen :D

https://www.instagram.com/p/BNQe6MlgcGZ/?taken-by=psikologi.uinsuka
Guess where I am ? :D

With Ayun teman setia seminar :D







“Kejahatan seksual terhadap anak adalah kejahatan luar biasa, dan penanganan, sikap, dan tindakan seluruh elemen, baik dari pihak pemerintah maupun masyarakat, harus dilakukan secara khusus.” - Joko Widodo -